Bukan Kamu

Bagaimana kamu mengetahuinya dengan sangat baik? Detai-detail kisah itu, kisah yang tidak boleh seorangpun tau. Banyak hal yang tersembunnyi dibalik kisah ini, bagaimana kamu mengetahuinya? Dia berpaling menatap langit yang tak lagi sebiru tadi kemudian menarik napas sebentar sebelum akhirnya berbicara.

“Aku adalah dia”, kata-kata yang mengejutkan, tidak mungkin dia masih hidup di saat seperti ini. Dia seharusnya sudah mati dan aku tidak tau wajah orang yang berdiri di depanku kini.

“Siapa, siapa dia?”, aku bertanya menunggu jawaban yang entah apa nantinya. Dia melihatku lalu tersenyum manis, membalasku dengan senyuman adalah hal yang tidak adil. Aku butuh jawaban.

“Bukankah sudah kukatakan Nata, aku adalah dia yang pernah pergi”.

Ucapannya tidak masuk akal, dia menyebut namaku seolah sudah mengenal sejak lama. Aku tidak ingin mengakuinya sebagai dia, mereka berbeda. Dia yang sudah mati adalah kekasihku dan laki-laki di depanku kini, aku tidak mengenalnya.

“Hah, jangan bermain-main denganku. Kamu bukan dia, bukan orang yang kucintai. Kamu bukan dia”. Aku menjauh, tidak ingin mendengar laki-laki itu bicara satu kata lagi mengenai kekasihku.

“Hei!”. Dia menarik tanganku dan membuatku menghadapnya.

“Aku adalah dia Nata, kamu adalah kekasihku!”. Dia bersikeras, aku menggelengkan kepala, jika laki-laki di depanku ini adalah dia, lalu siapa yang ada di depanku saat itu? Dia mengorbankan dirinya untukku, dia membiarkan selongsong peluru menembus dadanya demi menyelamatkanku.

“Kamu bukan kekasihku, bukan Alfonso yang kucintai. Kumohon jangan bermain-main denganku tentangnya, aku mencintai kekasihku”. Dia melepaskan pegangan tangannya pada tanganku, aku menatapnya sebentar lalu tersenyum, memang benar dia bukan Alfonso.

Langitnya kini berubah jingga, indah. Namun, tidak seindah saat Alfonso masih bersamaku. Aku pergi menjauh, kini dia tidak menghentikanku, entah apa yang dia lakukan. Aku hanya ingin pergi dari sini dan tidak ingin menemui laki-laki itu lagi.

Aku sempat berharap jika dia adalah Alfonso yang kucintai, ingin aku sekadar mempercayai perkataan laki-laki gila yang memanggil dirinya kekasihku. Sungguh, aku masih tak rela Alfonso, seharusnya aku yang tiada pada hari itu, bukan kamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PINTU YANG KUTUTUP SENDIRI - 5 Agustus 2025

Dinding Tanpa Penutup, dan Kuizinkan Kau Terbang - 29 Oktober 2025

Teman Perjalanan - 11 Februari 2025