PINTU YANG KUTUTUP SENDIRI - 5 Agustus 2025

Pintu yang Kututup Sendiri

- Mifda


Sore ini kembali, setelah aku berdiskusi dengan rasa sakitku dan menahan untuk pergi lagi. Masa SMK kami sudah berakhir. Aku tidak bisa lagi tertawa dan menunggu senja di ruang kelas itu—semuanya sungguh telah berakhir.

Baskara yang indah memandang jenuh ke permukaan, melihat setiap insan yang berlalu-lalang tanpa arah dan tujuan. Aku salah satunya. Tujuan dan arahku hilang. Aku tidak tahu harus ke mana dan untuk apa.

Angin menghembus pelan, membuat ujung jilbabku sedikit terangkat di belakang. Aku ingin menangis, memandang kelas ini untuk terakhir kalinya—sebelum benar-benar berubah, sebelum benar-benar menghilang, dan hanya akan menyisakan kenangan.

Banyak sekali hal yang perlu kusadari sebelum meninggalkan kelas ini. Aku masih ingin mengenang hal-hal itu. Memang, kadang rasanya sakit, seperti saat aku dituduh dan menjadi kambing hitam, saat aku tidak bisa berbicara karena takut diolok-olok, saat aku menyerah pada pelajaran olahraga, saat aku ingin menangis di pojok ruang kelas karena tidak ada yang memperdulikanku.

Dan memang benar. Aku sendiri, dari awal sampai akhir. Tidak ada yang benar-benar menjadi temanku di sini. Tidak ada yang benar-benar mau mendengar keluh kesah orang sepertiku. Aku disalahkan, dijadikan lelucon, bahkan dibuang.

Tapi kenapa? Kenapa aku masih tidak ingin lepas dari kelas ini? Kelas yang menjadi saksi betapa hancur dan bahagianya aku. Semuanya palsu. Jika aku mengingatnya kembali, semua hal yang aku alami di sini adalah palsu. Begitulah aku ingin mengingatnya.

Kursi paling depan, dekat papan tulis, agar aku tidak tertidur saat jam pelajaran. Guru yang mengajar dengan lantunan pelan, yang justru membuat rasa kantukku semakin menjadi. Teman-teman yang ke kantin saat jam istirahat. Orang-orang yang berlalu-lalang di depan kelas. Kelas yang tidak memiliki kipas angin, tetapi anehnya malah memiliki CCTV mahal untuk memantau keamanan. Ketiduran di atas meja saat sore pulang sekolah karena kelelahan dan tidak ingin pulang ke rumah terlalu cepat.

Semuanya adalah hal-hal kecil. Semua ini adalah hal kecil yang aku sukai.

Permainan kartu Uno dengan teman-teman di jam kosong (jamkos). Dunia ini indah dengan sederhana—walaupun kadang menyakitkan. Semuanya membuatku tak bisa lupa. Bagaimana rasa sakit saat teman-temanku tidak berpihak padaku di kelas dua. Bagaimana aku sendirian, berusaha bertahan dari keinginan untuk tidak hadir ke sekolah karena tidak memiliki teman.

Padahal, dunia tidak sesempit itu. Tidak pernah sesempit itu. Hanya cara berpikirkulah yang begitu.

Rasanya masih berat melangkahkan kaki untuk pergi dari kelas ini. Aku memandang ke dalam kelas sekali lagi—cukup sekali lagi. Memastikan apakah tampaknya akan sama dengan hari ini di masa depan. Apakah kursi yang aku perebutkan di depan itu akan berpindah pemilik. Dan apakah semua teman-teman yang ada pada hari terakhir ini akan tetap sama, tetap tidak akan pernah melupakan kenangan yang ada di sini.

Semua hal kecil. Semua hal yang sederhana namun bermakna. Semua ini—tak ingin aku melupakannya.

Aku menarik napas panjang untuk terakhir kalinya. Tinggal aku seorang, yang enggan keluar dari kelas ini. Hanya aku sendiri.

Aku melangkahkan kaki ke pintu kelas dengan enggan, sambil menggendong tas kesayanganku yang telah menemani tiga tahunku di SMK ini. Meraih gagang pintu kelas untuk membukanya, aku melangkahkan kaki ke luar dengan perasaan berat.

Kini saatnya aku menutup pintu kelas ini, dan selamanya pergi meninggalkannya.

Kututup rapat pintu cokelat yang mengaduh lirih saat kupaksa rapat, khas pintu tua. Benar-benar sudah kututup rapat. Kulepaskan genggamanku pada gagang pintu itu, kutegakkan bahuku, tiga tahun kutinggalkan di balik pintu itu—tiga tahun memori SMK-ku, dan melangkah pergi menuju arah yang belum kupahami untuk mencari tujuan baru. Meskipun aku masih tidak tau akan berapa lama.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinding Tanpa Penutup, dan Kuizinkan Kau Terbang - 29 Oktober 2025

Teman Perjalanan - 11 Februari 2025