Teman Perjalanan - 11 Februari 2025
Teman Perjalanan
Ternyata benar menyakitkan rasanya, lagi-lagi aku selalu menjadi orang yang menemani di kala dia sedih atau gundah. Aku adalah orang yang menemani perjalanannya, namun bukan orang yang akhirnya akan dipilih olehnya.
Mungkin memang nasibku untuk menjadi seperti ini, terlupakan dan terluka karena keadaan yang tidak pasti. Aku seharusnya menyerah menggapai sesuatu yang tidak akan menjadi milikku seperti ini. Selalu hanya aku yang menemani dan ditinggalkan seperti ini.
Apa seharusnya aku tidak melakukan itu? Pikiranku terus berkecamuk dan menyuruhku untuk menerimanya saja. Namun hati ini sakit, tidak sanggup untuk hanya sekadar melihatnya dari kejauhan. Tidak ada perasaan senang setelah dia menemukan kebahagiaannya.
Apa aku egois jika menginginkannya untuk kembali, padahal aku yang membuka jalan untuknya agar dia bisa bertemu orang yang dapat membahagiakannya. Jika bersamaku maka dia akan tetap sama saja dan tetap memiliki rasa sakit itu, namun melihatnya begini juga membuatku sakit hati.
Aku ingin dia Bahagia dari hati yang terdalam, aku sungguh ingin dia Bahagia.
Kebahagiaannya membuatku terluka.
Rasanya sesak sekali melihat dia bersamanya, sangat menyesakkan. Aku ingin menghilang saat itu juga. Aku ingin menghilang, sungguh aku ingin menghilang.
Apakah memang seperti ini rasanya jika kamu bergelut dengan perasaan yang tak pasti ini? Kenapa perasaan ini bahkan ada di dunia ini, aku sungguh membencinya. Kebahagiaan yang aku rasakan selama ini ternyata hanya sementara, aku hanya bagian dari perjalanannya menuju kebahagiaan untuk selamanya. Aku hanya merupakan teman perjalanannya.
Namun, apakah memang peranku di sini hanya sebatas teman perjalanan? Ataukah aku yang selama ini terlalu terpaku pada harapan yang tak pernah ada? Aku menyadari bahwa kehadiranku mungkin tidak lebih dari bayangan yang menemaninya sesaat, tetapi bukankah setiap peran dalam hidup seseorang memiliki makna?
Aku boleh merasa sakit, aku boleh merasa kehilangan. Tetapi aku juga harus menerima bahwa tidak semua yang kita perjuangkan akan menjadi milikku. Mungkin, perjalananku bersamanya adalah sebuah pelajaran, bukan sebuah akhir. Mungkin, aku hanya perlu belajar menerima bahwa kebahagiaan seseorang tak selalu berarti kehancuranku.
Meski aku hanya bagian dari perjalanannya, aku ingin percaya bahwa aku bukan sekadar persinggahan yang dilupakan. Aku adalah bagian dari ceritanya, sebagaimana dia menjadi bagian dari ceritaku. Dan seperti setiap perjalanan, akan ada titik di mana aku juga harus melangkah ke depan, menemukan jalanku sendiri.
Mungkin saat ini terasa menyakitkan, tetapi aku tahu, pada akhirnya aku pun akan menemukan kebahagiaanku sendiri.
Komentar
Posting Komentar