Teman Perjalanan - 11 Februari 2025
Teman Perjalanan Ternyata benar menyakitkan rasanya, lagi-lagi aku selalu menjadi orang yang menemani di kala dia sedih atau gundah. Aku adalah orang yang menemani perjalanannya, namun bukan orang yang akhirnya akan dipilih olehnya. Mungkin memang nasibku untuk menjadi seperti ini, terlupakan dan terluka karena keadaan yang tidak pasti. Aku seharusnya menyerah menggapai sesuatu yang tidak akan menjadi milikku seperti ini. Selalu hanya aku yang menemani dan ditinggalkan seperti ini. Apa seharusnya aku tidak melakukan itu? Pikiranku terus berkecamuk dan menyuruhku untuk menerimanya saja. Namun hati ini sakit, tidak sanggup untuk hanya sekadar melihatnya dari kejauhan. Tidak ada perasaan senang setelah dia menemukan kebahagiaannya. Apa aku egois jika menginginkannya untuk kembali, padahal aku yang membuka jalan untuknya agar dia bisa bertemu orang yang dapat membahagiakannya. Jika bersamaku maka dia akan tetap sama saja dan tetap memiliki rasa sakit itu, namun melihatnya begini juga ...