Dinding Tanpa Penutup, dan Kuizinkan Kau Terbang - 29 Oktober 2025

 

Dinding Tanpa Penutup, dan Kuizinkan Kau Terbang

- Mifda


Lagi-lagi, aku menjadi penyebab luka bagi hati yang paling menyayangi dan memahamiku.

Kita berpisah tanpa sepatah kata perpisahan, dan itu jauh melampaui rasa sakit yang pernah ada. Ada kehampaan disana. Jika segala sesuatu selalu ada pembukaan, mengapa kisah kita berakhir tanpa sebuah penutup? Aku sungguh merasa bodoh. Padahal, aku yang menghancurkanmu hingga kamu lelah dan tak sanggup lagi mendampingiku, tetapi mengapa justru aku yang tersedu dan merasa hancur?

Aku ingin kamu bahagia seutuhnya. Oleh karena itu, aku memberimu ruang bernapas, menjauh dariku, membebaskanmu dari beban perasaanku yang memberatkanmu.

Tak pernah terlintas sedikit pun bahwa aku akan jatuh hati, apalagi mencintaimu. I’m loving you. Kenyataannya, aku sangat mencintaimu, hingga aku memaksakan diri untuk merelakanmu—dalam kondisi di mana hatiku begitu memujamu. Ternyata, selama ini aku yang dibutakan. Kamu tanpa lelah menyuarakan cinta dan memberiku segalanya, hingga aku terlupa bahwa aku belum membalas apa-apa. Aku tidak pernah tahu bagaimana cara memberimu kasih itu. Aku lupa bahwa kamu pun mendambakan cinta, sama sepertiku. Aku lalai.

Maafkan aku. Untuk saat ini, aku harap kamu benar-benar bisa bernapas lega. Aku tidak akan menghubungimu sampai kamu kembali menemukan ketenangan dirimu, dan sampai aku siap untuk memberimu cinta yang pantas kamu dapatkan. Terkadang, dalam sunyi malam yang tak bertuan tanpamu, aku bertanya: Mungkinkah segalanya akan berbeda jika cinta itu kuberikan sejak awal? Mungkinkah takdir kita akan berubah jika kuberi kamu seluruh cinta yang kau pinta? Entahlah. Semua telah berlalu, dan aku mengikhlaskanmu.

Perih rasanya tak bisa lagi memelukmu, tak bisa lagi berbagi percakapan hangat yang dulu kita miliki. Namun, semua ini adalah kesalahanku. Aku terus menghukum diri hingga aku mati rasa dan air mata ini jatuh tanpa kusadari, berulang kali. Oh, hatiku remuk. Aku bahkan tak mampu lagi mengetikkan kata-kata ini dengan lancar, seperti dulu. Aku sungguh bodoh karena telah melukaimu. Bodoh karena tak melihatmu yang selalu di sisiku, apalagi menghargaimu.

Meskipun terasa menusuk membayangkan dirimu kelak bersama orang lain dan bukan aku yang akan mendampingimu. Aku menangis sejadi-jadinya memikirkan itu. Padahal, aku yang menorehkan luka. Aku seharusnya menerima, aku seharusnya melepaskanmu. Kamu bahkan tak menoleh lagi saat aku di dekatmu. Mungkin ini adalah karma atas sikapku yang telah menyepelekanmu.

Aku memohon maaf. Namun, untuk saat ini, aku takkan mengucapkan “maaf” itu langsung di hadapanmu. Aku tak ingin membebanimu dan memaksakan perasaanku. Kamu berhak atas kebahagiaanmu sendiri, meskipun jalanmu bukan bersamaku. Dan aku akan selalu mendoakan yang terbaik bagimu, kekasihku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PINTU YANG KUTUTUP SENDIRI - 5 Agustus 2025

Teman Perjalanan - 11 Februari 2025